Alhamdulillah, tinggal menghitung hari, Ramadhan akan
segera kembali! Ramadhan yang terasa spesial sekali mengingat hampir seluruh
dunia sedang menghadapi wabah yang efeknya luar biasa ini. Hampir semua lapisan
masyarakat terdampak dan tengah diuji kualitas sabar, syukur dan tawakkal melalui
pandemi ini. Pertama, bersabar. Jelas,
kondisi wabah yang kian merajalela ini mengharuskan kita untuk semakin berlatih
sabar. Sebab, tiada pilihan lain yang bisa kita tempuh selain menjadi manusia
shabbar (dalam bahasa Al-Qur’an). Latihan sabar
yang sesungguhnya telah kita hadapi bersama-sama agar tetap berpikir
yang baik di tengah keadaan yang kurang baik.
Kedua, bersyukur. Selain kualitas sabar telah sedikit demi sedikit dilatih,
fase berikutnya ialah kualitas syukur yang juga tengah diuji pada masa-masa
sulit ini. Rasa syukur yang mengharuskan kita untuk tetap mengucapkan pujian
pada Allah, Alhamdulillah ‘ala> kulli ha>l— kendati
pendapatan bulanan datang terlambat, penjualan yang tiba-tiba tersendat, hingga
pengangkut jasa ojek online dan semua kendaraan umum merasa sulit mendapat
penumpang—ya, kondisi ini tetap tidak boleh memiskinkan empati kita sebagai
makhluk beriman. Empati kepada manusia lain yang kondisinya jauh lebih sulit
harus tetap terjaga. Berbagi kepada mereka yang papa lagi dhuafa.
Ketiga, tawakkal. Penyerahan kepada
Allah disertai usaha atau ikhtiar maksimal inilah tawakkal secara definitif. Tawakkal
tetap perlu—sebagai bukti bahwa manusia ialah makhluk lemah yang tiada daya. Masa-masa
pandemi pra-Ramadhan ini sejatinya betul-betul mengajarkan kita semua tentang
arti berusaha, berserah lalu berpasrah. Kendati
dalam kondisi sulit, ketiga sifat ini tetap harus dijaga kualitasnya agar kelak setelah cobaan
ini berakhir, bukan hanya jasmani saja yang tetap bugar dan sehat dari berkah
bersyukur, sabar dan tawakkal, tak kalah penting—kondisi psikis dan mental diharapkan
juga lebih kuat dan tangguh dalam menerima semua ketetapan
yang sudah ditakdirkan-Nya.
Sejalan
dengan tiga kualitas yang harus tetap dilatih dan dijaga, Ramadhan hadir
menghibur seluruh hamba-Nya yang mengaku beriman kepada lima rukun iman dan
enam rukun Islam. Ramadhan yang secara bahasa berarti membakar--\ seolah
memberikan arti bahwa bulan yang tinggal menghitung hari ini akan segara
meleburkan rasa takut, cemas, gelisah, khawatir, tidak berdaya, sedih dan
segala rasa yang wajar dialami manusia. Ya, kita harus tetap bahagia menyambut
bulan mulia yang dihadiahkan Allah untuk segenap hamba-Nya.
Jika Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah
bulan Rasulullah, maka Allah menyediakan Ramadhan untuk kita semua. Maksudnya? Tiada
bulan yang lebih mulia dari bulan ramadhan, sebab amalan-amalan baik di bulan
ini senantiasa dilipatgandakan oleh Allah. Orang yang berpuasa di bulan
Ramadhan juga diganjar dengan pahala yang tiada terkira. Qs. al-Qadr merekam
betapa mulianya bulan Ramadhan ini,
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an)
pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam
kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun
malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur
segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”
(QS. Al Qadr: 1-5).
Kemuliaan
al-Qur’an dan keutamaan bulan Ramadhan yang luar biasa, hendaknya menjadikan
kita tidak terlena. Hampir sebulan melaksanakan seluruh kegiatan di rumah,
sepatutnya membuat pribadi kian siap menghadapi ramadhan dengan ibadah mahdhah
juga ibadah-ibadah yang membangun kecerdasan sosial. Nah, membahas soal
persiapan, kira-kira persiapan apa saja yang sudah mulai dibiasakan untuk
menyambut Ramadhan? Jika belum mengatur persiapan yang terperinci, kita bisa
memulai dari menata dan lebih mendekatkan diri dengan Al-Qur’an! Caranya beragam;
bisa tilawah, tahsin bacaan, membaca kisah-kisah dalam Al-Qur’an, mendalami
terjemahan atau bahkan mencoba menghafalnya! Kenapa harus dari Al-Qur’an? Sebab
hakikatnya, Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an—Qs. al-Baqarah/2: 185, merekam
dengan penuh syahdu, “(Beberapa hari yang
ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan
(permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan
mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena
itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan
itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau
dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak
hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki
kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu
mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya
yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
Berdasarkan
ayat di atas, tentu kita tak meragukan lagi keutamaan, kemuliaan dan kebesaran
Al-Qur’an. Bahkan, Abdullah bin Darraz menuliskan bahwa Al-Qur’an bagaikan
intan permata yang tiap sisinya. Saking berkilau dan banyaknya cahaya itu. Sehingga,
ketika kita mulai mengkaji al-Qur’an dari satu sisi (makhrajnya, misal)—maka
kita akan temui lagi sisi-sisi lain yang tak kalah penting dan menarik untuk
dibahas. Hal ini bisa dirasakan sebab Al-Qur’an bukan bahasa penulis yang
mendayu dan penuh canda tawa. Al-Qur’an juga bukan syair-syair buatan manusia.
Al-Qur’an jauh dari opini apalagi hal-hal yang unfaedah—kalau kata anak zaman now, mah! Iya, al-Qur’an kitab mulia yang diturunkan langsung dari Zat yang
menciptakan dan menghidupi kita; yakni dari zat yang masih memberi kita nafas
sehingga setiap pagi sanggup terbangun, bertemu, berkumpul, bercengkrama dengan
orang-orang yang tersayang. Dialah Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi.
Karena
mulianya posisi Al-Qur’an, Allah pun memuji dan memuliakan para pembaca,
pengamal, pengajar, pembelajar dan penghafal Qur’an. Bahkan, Rasulullah Saw
bersabda, “Diriwayatkan oleh Aisyah ra, dia berkata, “Rasulullah Saw bersabda,
‘Orang mukmin yang mahir membaca
al-Qur’an, maka kedudukannya di akhirat ditemani oleh para malaikat yang mulia.
Sementara orang yang gagap membaca Al-Qur’an, ia sulit dalam membacanya, maka
ia mendapatkan dua pahala. (HR. Muslim)
MasyaAllah, betapa Allah memuliakan mereka yang senantiasa
membaca AL-Qur’an kendati masih belajar dan belum lancar membacanya, masih
dianugerahi pahala. Belum lagi, setiap huruf Al-Qur’an mengandung keberkahan
dan kebaikan yang berlipat ganda. Terbayang sudah, betapa timbunan pahala
sungguh luar biasa melimpah jika kita mempersiapkan diri menuju bulan yang
penuh berkah.
Tak
kepalang tanggung, Rasulullah Saw juga
pernah bersabda dalam suatu hadits, bahwasannya Salim meriwayatkan dari
bapaknya dari Nabi Saw, beliau bersabda, ‘Tidak boleh iri hati kecuali pada dua
hal. Pertama, kepada orang yang Allah
berikan kemauan untuk terus membaca, mengajar dan menghafal Al-Qur’an, sehingga
ia terus membacanya siang dan malam. Kedua,
kepada orang yang Allah karuniakan harta kekayaan lalu dibelanjakannya harta
itu siang dan malam di jalan Allah.” (HR. Muslim)
Masya Allah, dua hal di atas terkadang masih tak menjadi
perhatian manusia. Allah menghendaki setiap hamba-Nya untuk dekat dengan Al-Qur’an
di seluruh bulan, terlebih bulan
Ramadhan. Alla juga menghendaki agar setiap manusia tidak hanya fokus
berlomba memperkaya diri sendiri—namun juga melahirkan empati, membangun aksi agar
bisa berbagi dari harta yang dimiliki.
Semoga
sisa-sisa Sya’ban menjadi bulan reflektif untuk kita semua agar mau berkaca
diri; amalan apa yang harus dilakukan selama Ramadhan nanti. Yuk, don’t be mager, Kawan! Siap-siap menyambut
Ramadhan dengan hati tanpa beban, ya!
Comments
Post a Comment