Pemberitaan demi pemberitaan tentang kematian dan korban
suspect Covid-19 memang kian menggelisahkan hati. Kondisi yang memang belum
membaik terlihat dari semakin tingginya korban dan penyebaran virus yang
mendunia ini. Di Indonesia sendiri, guna menekan penyebaran virus yang lebih
merajalela lagi, pemerintah telah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala
Besar (PSBB) April 2020. Namun demikian, PSBB sendiri mengalami banyak kendala.
Salah satunya kesadaran dan kedisiplinan pribadi. Regulasi yang sudah diatur oleh
pemerintah seharusnya menjadi hal yang penting diperhatikan dan dipatuhi oleh
seluruh lapisan masyarakat—tanpa terkecuali. Sebab kesadaran, kepatuhan dan
kedisiplinan masyarakat terhadap regulasi pemerintah tentu berpengaruh terhadap
penyebaran Corona ini. namun mirisnya, di hari pertama PSBB diberlakukan,
ribuan pelanggaran terjadi di berbagai wilayah; tidak taat wajib masker, contoh
sederhananya. Padahal, penggunaan masker adalah salah satu upaya untuk menjaga
diri ketika berada di luar rumah, selain tentu turut melindungi orang lain.
Kesadaran dan kedisiplinan individu yang masih harus
terus disuarakan atau bahkan diberi sanksi yang lebih tegas sangat perlu sebab
kondisi yang kian hari kian memprihatinkan. Demikianlah Corona. Banyak hal yang
harus dibenahi dan menjadi perhatian bersama-sama. Andai corona tidak pernah
ada, masyarakat Indonesia mungkin tidak akan pernah belajar pentingnya
kedisiplinan, menjaga kebersihan diri dan keluarga, rindunya berkumpul dengan sahabat
dan saudara. Termasuk soal; belajar mengenai empati yang tak kalah pentingnya!
Siapa
sih yang tidak terdampak dari Covid-19 ini? Hampir semua lapisan masyarakat
merasakan efeknya sekaligus ni’mat buah dari virus ini. Ada yang usahanya
tiba-tiba sepi pembeli. Ada yang pekerjaannya hanya setengah gaji bahkan ada
yang sama sekali tidak digaji! Bahkan, ada yang harus berbesar hati karena
perusahaan yang ‘merumahkannya’ sebab tak mampu mempekerjakannnya lagi. Semua
merata! hampir semua lapisan masyarakat dari kalangan atas, menengah bahkan kelas
bawah merasakan dampak dari Covid-19 ini.
Dalam situasi sempit dan mencekik inilah ketabahan dan
kelapangan hati kita diuji. Tak cukup hanya bersabar; aks-aksi kecil namun
berdampak harus diupayakan. Membantu memberikan bantuan moril pada masyarakat
kecil/ pedangang jalan yang masih harus terus berdagang. Jika belum bisa membantu
secara materil (uang), kita tentu masih bisa bersedekah dengan cara lain;
menyumbang masker, misalnya. Agar mereka bisa turut melindungi diri dan menekan
penyebaran virus. Ya, kondisi pandemi ini harus terus membuat kita tersadar, optimis,
semangat dan berjuang bersama-sama; melahirkan empati kepada sesama.
Jika melirik ke sirah Nabawiyah, Rasulullah sesungguhnya
telah merekam dan member contoh dengan baik bagaimana melahirkan rasa empati. Bahkan,
Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa rasa empati dan keinginan untuk berbagi
tidak harus selalu dalam kondisi lapang. Rasa kemanusiaan sesungguhnya diuji dan
sebaik-baiknya kesempatan memberi/ berbagi ialah ketika dalam kondisi sempit dan sulit—termasuk ketika
musim pandemi ini.
“Dan bersegeralah
kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan
bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang
menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang
yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai
orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Qs. Ali Imra>n/ 3: 133-134)
Surah di atas turun berkaitan dengan suasana pasca Perang
Uhud dimana Rasulullah dan para sahabat mengalami kekalahan dan kehilangan
keluarga dan sahabat yang gugur di medan perang. Termasuk Rasulullah yang kala
itu kehilangan paman beliau, Hamzah bin Abdul Muthallib yang dibunuh oleh
perempuan musyrik bernama Hindun. Tak puas membunuh Hamzah, Hindun juga membedah
perut Hamzah secara paksa dan mengambil serta memakan/ mengunyah hati jenazah paman Rasul tersebut. Astaghfirullah..
Melalui
peristiwa kekalahan Perang Uhud inilah Allah memberikan basyi>ran (kabar gembira) kepada Rasulullah dan para sahabat
secara khusus bahwa jika mereka tetap berbagi (meski dalam kondisi kekurangan
harta benda pasca kalah dari peperangan) serta mampu menahan amarah dan mau
memaafkan kesalahan orang-orang kafir— termasuk Hindun; sebab Rasulullah telah bersumpah
akan membalas (membunuh) tiga puluh orang musyrik karena kematian pamannya,
hingga akhirnya Rasulullah ditegur secara khusus oleh Allah dalam Qs An.Nahl/
16: 126, “Dan jika kamu memberikan
balasan, maka balaslah dengan Balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan
kepadamu akan tetapi jika kamu bersabar, Sesungguhnya Itulah yang lebih baik
bagi orang-orang yang sabar.
Pelajaran
berharga yang kita dapat dari firman Allah di atas serta peristiwa yang
melatarbelakanginya menjadi hal penting yang harus dipraktikkan dalam masa pandemi
ini yaitu belajar untuk mau berempati dan berbagi. Berbagi tidak harus melulu
dengan materi. Kita bisa memulai berbagi dari hal-hal sederhana namun penuh
makna. Bahkan, tersenyum, memberikan semangat dan motivasi, berbagi ilmu secara
cuma-cuma serta mendoakan sesama juga termasuk sedekah yang penuh arti. Semoga,
masa pandemi ini bisa menguatkan rasa kebersamaan kita semua untuk selalu punya
keinginan untuk berbagi; bagaimanapun caranya. Aamiin..
Comments
Post a Comment